Masters: FIFA Piala Dunia Dijual 'Hancurkan Diri Sendiri'
CEO Premier League Richard Masters mengkritik penjualan komersial Piala Dunia FIFA yang ditinggalkan sebagai 'luka yang disebabkan sendiri' dan menyerukan kandidat presiden yang menyatukan.

'Luka yang Disebabkan Sendiri' oleh FIFA
Dampak dari rencana FIFA yang ditinggalkan untuk menjual saham hak komersialnya terus bergema, dengan kepala eksekutif Premier League, Richard Masters, memberikan penilaian tajam terhadap kepemimpinan organisasi tersebut. Berbicara kepada BBC Sport, Masters menuduh FIFA telah "menekan tombol penghancur diri sendiri" terkait proposal tersebut, yang kemudian dibatalkan setelah mendapat tentangan luas.
Rencana tersebut, yang dilaporkan didukung oleh presiden FIFA, Gianni Infantino, akan menciptakan perusahaan baru—Fifa Forward Enterprise (FFE)—untuk mengelola hak komersial dan tiket semua kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia. Berdasarkan skema tersebut, 21% perusahaan akan dijual kepada perusahaan investasi swasta, sebuah langkah yang memicu kemarahan di seluruh dunia sepak bola.
Masters tidak berbasa-basi, menyatakan: "Ini adalah masalah yang diciptakan oleh FIFA. Ini adalah luka yang disebabkan sendiri. Organisasi ini telah menekan tombol penghancur diri sendiri, dan konsekuensi dari hal itu sekarang mengalir ke solusi yang perlu ditemukan."
Reaksi yang Dipimpin UEFA dan Penarikan Diri FA
Proposal tersebut akhirnya dibatalkan setelah UEFA memimpin pemberontakan, dengan beberapa konfederasi mengancam akan memboikot semua kompetisi FIFA. Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) juga menarik dukungannya terhadap Infantino, sebuah langkah yang secara eksplisit didukung oleh Masters.
Dalam wawancara luas yang dilakukan sebelum dimulainya musim Premier League yang baru, Masters melangkah lebih jauh, menyerukan kandidat baru untuk kepresidenan FIFA yang dapat "menyatukan sepak bola". Komentarnya menandakan ketidakpuasan yang tumbuh terhadap kepemimpinan Infantino, yang ditandai dengan kontroversi seputar perluasan Piala Dunia dan sekarang kesalahan komersial ini.
Pernyataan kepala Premier League ini muncul hanya beberapa hari sebelum liga papan atas Inggris dimulai pada hari Jumat, dengan juara Arsenal menjamu tim promosi Coventry. Namun, fokus kritiknya tertuju pada badan pengatur sepak bola dunia.
Implikasi untuk Piala Dunia 2026
Meskipun rencana FFE telah dikesampingkan, dampaknya menimbulkan pertanyaan tentang tata kelola dan kepercayaan saat sepak bola menatap Piala Dunia 2026, yang akan diselenggarakan oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Turnamen ini diharapkan menjadi yang paling menguntungkan secara komersial dalam sejarah, tetapi penjualan yang dibatalkan telah membayangi pengambilan keputusan FIFA.
Intervensi Masters menggarisbawahi kegelisahan mendalam di antara para pemegang kekuasaan sepak bola. Dengan menyelaraskan Premier League dengan sikap FA, ia telah meningkatkan tekanan pada Infantino, yang kini menghadapi masa depan yang tidak pasti. Seruan untuk kandidat yang menyatukan menunjukkan bahwa status quo mungkin tidak lagi dapat diterima oleh para pemangku kepentingan utama.
Saat dunia sepak bola mencerna perkembangan ini, fokus akan beralih ke bagaimana FIFA membangun kembali kepercayaan. Untuk saat ini, pesan dari Premier League jelas: organisasi harus belajar dari "luka yang disebabkan sendiri" ini dan mengukir jalan yang lebih kolaboratif ke depan.
Bagi penggemar dan petaruh, gejolak politik menambah unsur ketidakpastian pada permainan yang indah ini. Tetapi saat musim baru mendekat, perhatian akan segera beralih ke lapangan. Tetap perbarui dengan tips taruhan AI hari ini dan berita sepak bola terbaru seiring perkembangan cerita.
Artikel Terkait

Penjualan Piala Dunia FIFA Memicu Krisis: Masters Bunyikan Alarm

Penyerang Skotlandia Robbie Ure Bergabung dengan Sevilla Seharga £5,5 Juta

Rencana Kontroversial FIFA Jual Hak Siar Piala Dunia Senilai $20 Miliar
